Berawal dari kisruh mahasiswa dengan rektorat Universitas Jabal Ghafur (Unigha) Pidie soal akreditasi yang dimulai dengan unjuk rasa, penyegelan toko (gedung kuliah) dan lain-lainnya itu, maka ia pun berpikir. Aksi mahasiswa itu sangat higiene. Jika tidak, air dalam kubangan Glee Gapui makin sarat mikroba jahat.
Kepada Harian Aceh, dia mengaku, ketegangan yang berlarut hingga lebih sebulan tak ada titik terang itu ternyata memancing sebait nostalgia. Awalnya enggan diutarakan. Menurut dia, itu memori kelabu. Filosofinya, ia tak mau jadi pembuka aib almamater. Tapi pertimbangan “barangkali ada gunanya” membelokkan cara pandang tersebut.
Mantan Mahasiswa Fakultas Ilmu Administrasi (selanjutnya disebut MM-Fia) lulusan 2003 yang kini merupakan salah seorang PNS di Pemkab Pidie itu berkisah. Suatu pagi di gedung Lapan Sagoe, Glee Gapui, sejumlah mahasiswa duduk tenang menunggu lembaran soal ujian sebuah mata kuliah. Tak lama, seorang pengawas yang juga dosen, masuk dan membagikan lembaran soal ke setiap peserta.
Ketika lembaran soal itu lengkap dibagi, sang dosen pria itu berdiri di depan seraya berucap, “Kalian boleh melihat buku dan catatan. Tetapi, jangan ribut…!”
Sontak berdengung suara, “Aaaaaa…,” dari para mahasiswa-mahasiswi peserta ujian. Mereka memberi aplus. Malah satu-dua bertepuk tangan. Semua senang diberi kebebasan mencontek. Dan wajah dosen pengawas, sumringah. Sedikit bersemu merah. Rasanya dia begitu menikmati tanggapan empati peserta ujian. Hatinya begitu terbelai oleh kedermawanannya sendiri. Serasa dia bagai pahlawan di sepenggal pagi itu.
Saat itu, MM-Fia satu-satunya yang berkerut wajah. “Ini konyol,” batinnya. Dosen menebar kebaikan demi meraup simpati, kendati, metode itu amat keliru. “Tiba-tiba kepribadian dosen itu menjadi kabur di mata saya. Secara intelektual, ya, entahlah. Tapi secara akademik, dia pengkhianat. Lalu secara psikologis, dia adalah pribadi dengan perkembangan mental yang picik dan kampungan.”
Yang lebih konyol lagi, kata MM-Fia, peserta ujian malah girang dibebaskan lihat catatan dan mencontek begitu. Memang dengan kemerdekaan tersebut mereka bisa menggenjot perolehan nilai. Tapi apa arti nilai tinggi yang diperoleh secara tak fair? Apa arti nilai A-B A-B dengan kualitas akademika yang lulus lewat gaya uji berbasis pura-pura seperti itu?
“Phuih..! Dosen dan mahasiswa sama-sama bermental konyol…! Dosen dan mahasiswa sama-sama menerima anugerah kepuasan batin dari ketidaksadaran strategi pembodohan dan menipu diri-sendiri,” batin MM-Fia dengan gemas saat itu.
Dan yang menggenaskan adalah, bahwa peristiwa tipu-diri-sendiri gaya Unigha demikian tidak hanya berlangsung saat ujian hari itu, tapi nyaris setiap ujian. Dan bukan hanya ciri khas Fakultas Ilmu Administrasi, di mana mahasiswa di sini umumnya berstatus Pegawai Negeri Sipil yang tujuan kuliahnya hanya untuk memperoleh ijazah demi penyesuaian kenaikan pangkat cepat-otomatis nonreguler.
Maka terakhir dia mengambil kesimpulan, Unigha adalah institusi akademik dengan budaya contek tinggi.
blog sebagai permulaan dan untuk mengenal lebih jauh tentang blogger
Minggu, 15 November 2009
Pengeboman' NASA ke Bulan
NASA telah mengumumkan akan menjalankan aksi pelubangan bulan pada hari ini, Jumat (9/10/2009), dengan menggunakan pesawat luar angkasa milik NASA bernama Lunar Crater Observation and Sensing Satellite (LCROSS). NASA dijadwalkan akan menjatuhkan roket Centaurnya ke permukaan Bulan pada hari ini, Jumat (9/10/2009) pukul 07.31 waktu setempat. (srn)
Menengok Kebotakan Hutan Pidie
12 November 2009, 14:27 KONTRAS Administrator
Setelah perdamaian atau lahirnya MoU Helsinki 2005 lalu, aksi pembalakan liar justru semakin ganas. Ini dibuktikan dengan hasil operasi gabungan yang digelar pada beberapa bulan lalu oleh pihak dinas Kahutanan dan Perkebunan Kabupaten Pidie. Dari jumlah luas hutan di Kabupaten Pidie, sekitar 185.964 hektare merupakan hutan lindung. Selebihnya, hutan produksi 43.633 ha dan areal lainnya 93.533 ha. Namun, hingga kini, belum bisa dipastikan berapa hektare yang telah dibotakkan terutama pascadamai Aceh.
“Sejauh ini kita belum mengetahui secara pasti angka hutan kita yang telah dibotakkan (digunduli) oleh para pembalak liar. Sebab, para pembalak tersebut dalam melakukan aksi liar itu hanya mengandalkan lokasi secara tebang pilih,” sebut Kadis Kehutanan dan Perkebunan Pidie, Ir Amin Affan MSi, kepada Kontras, pekan lalu via telepon selulernya.
Uniknya, sejak operasi yang digelar oleh pihak dinas, belum diketahui siapa gerangan pelakunya. “Sejak digelar operasi, beberapa anggota polisi hutan dan aparat kepolisian tidak pernah tertangkap tangan pelakunya di hutan, sehingga kita sangat sulit mengindentifikasi pelakunya. Termasuk, saat kita ambil kayu sitaan ini tidak ada pihak yang melakukan klaim balik,” ujar Amin.
Berdasarkan data pihak dinas setempat, sekitar 45 kubik kayu yang telah disita dinyatakan dari hasil perambahan liar atau illegal logging. Kayu-kayu tersebut, tersebar di hutan Kecamatan, Padang Tiji, Tiro, Manee, dan Geumpang. Kesemua kayu itu lanjut Amin telah dilego dalam pelengan terbuka yang diselenggarakan pihak kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Provinsi Aceh pada Selasa (3/11) dan dimenangkan oleh rekanan Armasyah dari Aceh Utara dengan harga tawar tertinggi Rp 65 juta. “Sedangkan harga lego terendah Rp 39.916.319, “ jelas Amin.
Diakui Amin, sejak diberlakukan moratorium logging atau jeda tebang oleh gubernur Aceh, setidaknya telah membuat para perambah hutan menjadi cemeti untuk menghentikan jeda tebang secara semena-mena, apalagi ekses dari kegiatan haram itu telah berdampak pada banjir bandang dan amukan satwa liar dari hutan seperti Gajah dan Harimau. Yang jelas, sambung Amin, pihaknya hingga kini tak jemu-jemu selalu menyampaikan kepada masyarakat luas akan bahayanya penebangan liar, serta melakukan aksi penanaman kembali pada lokasi hutan-hutan yang telah dibotakkan oleh penebang liar. (idris ismail)
Setelah perdamaian atau lahirnya MoU Helsinki 2005 lalu, aksi pembalakan liar justru semakin ganas. Ini dibuktikan dengan hasil operasi gabungan yang digelar pada beberapa bulan lalu oleh pihak dinas Kahutanan dan Perkebunan Kabupaten Pidie. Dari jumlah luas hutan di Kabupaten Pidie, sekitar 185.964 hektare merupakan hutan lindung. Selebihnya, hutan produksi 43.633 ha dan areal lainnya 93.533 ha. Namun, hingga kini, belum bisa dipastikan berapa hektare yang telah dibotakkan terutama pascadamai Aceh.
“Sejauh ini kita belum mengetahui secara pasti angka hutan kita yang telah dibotakkan (digunduli) oleh para pembalak liar. Sebab, para pembalak tersebut dalam melakukan aksi liar itu hanya mengandalkan lokasi secara tebang pilih,” sebut Kadis Kehutanan dan Perkebunan Pidie, Ir Amin Affan MSi, kepada Kontras, pekan lalu via telepon selulernya.
Uniknya, sejak operasi yang digelar oleh pihak dinas, belum diketahui siapa gerangan pelakunya. “Sejak digelar operasi, beberapa anggota polisi hutan dan aparat kepolisian tidak pernah tertangkap tangan pelakunya di hutan, sehingga kita sangat sulit mengindentifikasi pelakunya. Termasuk, saat kita ambil kayu sitaan ini tidak ada pihak yang melakukan klaim balik,” ujar Amin.
Berdasarkan data pihak dinas setempat, sekitar 45 kubik kayu yang telah disita dinyatakan dari hasil perambahan liar atau illegal logging. Kayu-kayu tersebut, tersebar di hutan Kecamatan, Padang Tiji, Tiro, Manee, dan Geumpang. Kesemua kayu itu lanjut Amin telah dilego dalam pelengan terbuka yang diselenggarakan pihak kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL) Provinsi Aceh pada Selasa (3/11) dan dimenangkan oleh rekanan Armasyah dari Aceh Utara dengan harga tawar tertinggi Rp 65 juta. “Sedangkan harga lego terendah Rp 39.916.319, “ jelas Amin.
Diakui Amin, sejak diberlakukan moratorium logging atau jeda tebang oleh gubernur Aceh, setidaknya telah membuat para perambah hutan menjadi cemeti untuk menghentikan jeda tebang secara semena-mena, apalagi ekses dari kegiatan haram itu telah berdampak pada banjir bandang dan amukan satwa liar dari hutan seperti Gajah dan Harimau. Yang jelas, sambung Amin, pihaknya hingga kini tak jemu-jemu selalu menyampaikan kepada masyarakat luas akan bahayanya penebangan liar, serta melakukan aksi penanaman kembali pada lokasi hutan-hutan yang telah dibotakkan oleh penebang liar. (idris ismail)
Langganan:
Komentar (Atom)