Guru-guru hebat mengajar dengan dongeng. Begitu kata Aristoteles pada Alexander (The Great) di ruang belajar kerajaan.
“Aku melihatnya karena saat itu kebetulan aku sedang mengecat dinding istana itu. Nah, pasti kau tak percaya, kan? Dan kausebut aku mendongeng?” kata Dek Nong.
“Itu dia, jika kausebut aku pendongeng, maka aku bangga sebab seperti haba tadi bahwa guru hebat adalah pendongeng, jadi kaulakab aku guru hebat, walau tak sehebat harimau yang kini jadi keledai.”
Sebenarnya perkara itu lebih sederhana dari penyederhanaan masalah dalam pelajaran matematika sekolah dasar. Sangking sederhananya masalah itu sampai-sampai nasib pembelajaran di Kampung tak bernama seperti dongeng.
“Kau jangan fitnah!” teriak Dek Gam.
“Ini serius dan faktual!” balas Dek Nong seraya menjelaskan panjang-panjang tanpa lebar.
Tadi kusebut sekolah di negeri tak bertuan seperti dongeng karena memang begitulah ia dirancang. Sekolah di kampong kita seperti sekolah dongeng karena memang dirancang seperti itu. Ini serupa dengan Liga Arab yang gagal karena memang dirancang untuk gagal.
Seperti Kredit Peumakmu Nanggroe(KPN) yang gagal karena memang dirancang seperti itu. Seperti butr-butir MoU Helsinki yang tak habis dipenuhi karena memang begitu dirancang (mungkin oleh presiden saat itu).
Seperti haba itulah, pendidikan gratis yang dirancang pemerintah tidak berhasil karena dirancang memang begitu. Hanya untuk menawarkan hutang baru dari negara kita kepada negara luar. Alasan untuk dapat pinjaman baru atau investor lain.
Pun tentang pencegahan illegal logging yang tersendat-sendat yang memang dirancang begitu. Hanya untuk menciptakan isu baru. Satu lagi, yang segera berlangsung, PKA. PKA disinyalir akan kekurangan di sana-sini, karena memang dirancang untuk sedikit kacau. Begitu kacau maka dananya dicairkan terburu-buru sehingga orang tak sempat memprotes bila salah, sebab sudah mendesak. Begitulah.
Mengapa pengobatan gratis tak sepenuhnya berjalan? Katanya memang dirancang untuk itu. Sama halnya seperti nara pidana politik di pulau jauh sana, yang masih ditahan karena konflik padahal kini telah beberapa tahun damai. Semuanya telah dirancang.
Lalu Dek Gam bertanya pada Dek Nong, siapakah yang merancang semuanya?
“Semuanya telah dirancang oleh Apa Maun Gampong Lon.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar